Sekitar satu bulan yang lalu, ada PM ke YM ku dari nama yg cukup asing,
namanya mas Puji, dia tanya " ini Meyli ya.. teman nya Reza"
aku kenal Reza sebagai teman masa SMA, oh berarti kemungkinan terbesar dia satu SMA ,
di SMUN 2 Bandarlampung.
Langsung saya jawab " Iya… ini siapa yaa.. SMU 2 juga?"
Mas Puji : " iya, saya SMU 2 juga, Meyli kamu umurnya sekarang berapa??"
(wah kok tiba-tiba nanya umur ya, tapi aku jawab juga hehehe..)
Meyli : " Saya 25 tahun, ini mas apa mbak ya.. "
Mas Puji : " Saya laki2, sekarang ini Meyli sudah punya anak? berapa?"
Meyli : "Dua orang , ini mas Puji yang mana yaa.."
(saya tidak ingat pernah punya teman atau kakak kelas atau adik kelas yang namanya Puji)
Mas Puji : "Wah sudah dua ya umur 25 tahun, berarti kita ketemuan sudah 10 tahun yang lalu"
Meyli : " 10 tahun yang lalu ??!!"
Mas Puji : "Iya dulu saya suka gendongin kamu"
(Haduh aneh nih.. aneh…)
Mas
Puji : "Dulu kamu masih umur 5 tahun, suka ikut ibu ngajar kan ke
sekolah, dulu kan ibu kamu wali kelas saya waktu SMA, dan suka ajak
kamu pulang dari TK"
( Ooooooooooo……… begituuu ceritanya hihihi. Its explaining everything)
Meyli : "Oo.. begitu hehehe.. saya sudah lupa"
Mas
Puji : " Saya nge fans banget sama ibu kamu loh, dulu saya
panggil kamu Adis (yang memang nama panggilan keluarga, wah berarti
cerita dia bener nih)"
Meyli :"Iya, kalo ibu dan keluarga manggil nya Adis"
Mas
Puji : "Karena ibu kamu, saya bisa sukses seperti ini Dis, dulu
saya pernah dimarahin ibu lho.. tapi saat itu aja. Dua tahun saya wali
kelasnya ibu kamu"
Meyli : " Ibu kan jarang marah2 ya, pasti bendel hehehe.."
Mas Puji : "Biasalah anak muda hehehe.."
Meyli : "Sekarang mas kerja dimana, ntar aku ceritain ibu, biasanya ibu seneng denger kabar anak2 muridnya"
Mas Puji : "Saya di Qatar, di perusahaan minyak"
Meyli :"Oo…"
Dan pembicaraan berlanjut, sampai Mas Puji minta no HP ibu dan langsung telpon dari Qatar ke HP ibu !!
Well.. satu lagi murid ibu yang terbilang sudah mapan di jalan nya setelah SMA.
Aku
bangga sama ibu, sebagai seorang guru, beliau ibu yang sangat patut
dicontoh, dan memang menjadi salah satu orang yang aku contoh.
Cara beliau membesarkan anak, menghadapi suami, sampai mengaktualisasikan dirinya ! Menyeimbangkan antara karier dan keluarga.
Memang karier ibu tidak semegah wanita2 di metropolitan ini, tapi sangat mulia.
Beliau mendedikasikan dirinya sebagai guru semenjak lulus dari gelar kesarjanaannya.
Sekitar
15 tahunbeliau mengajar di SMUN 2 Bandarlampung, SMU unggulan di
Bandarlampung, sampai akhirnya pindah ke Purwokerto daerah asal ibu.
Hal
lain yang membuat aku bangga lagi ke ibu, walau pindah ke tempat yang
lumayan terpencil, dari sebuah SMU unggulan dan terkenal di perkotaan
menjadi mengajar di
SMP Negeri terpencil dipedasaan. Ibu
memakmurkan sekolah dan kehidupan guru nya dengan membuat koperasi,
memakmurkan koperasi, memfasilitasi dengan koperasi.
Sudah hampir
5 tahun beliau di SMP tersebut, dan pangkat terakhir di IVA nya belum
naik lagi. Walau pernah ditawari jadi kepala sekolah, entah kenapa
beliau menolak.
Satu hal baru, yang membuat ku bangga (lagi.. lagi..)
Akhir
tahun 2007, ibu mencoba membuat port folio untuk sertifikasi guru, yang
ada setelah keluar UU mengenai Guru dan Dosen, salah satunya mengenai
sertifikasi guru. Dimana seorang guru harus melalui serangkaian ujian
dan pembuatan port folio untuk diakui sebagai guru yang bersertifkasi,
timbal baliknya guru tersebut akan mendapat tunjangan sebesar gaji
pokok yang akan ditransfer langsung ke rekening nya.
Dimulai
perjuangan ibu membuat portfolio, di manage seluruh bahan dari mulai
tahun pertama mengajar, diketik satu persatu, di fotokopi dan jilid,
sampai kejadian mati lampu di malam deadline penyerahan nya, hampir ibu
menyerah, tapi dorongan dan bantuan ayah yang buat ibu jalan lagi. Ayah
adalah motor penggerak kekuatan ibu.
Saat itu kami sedih ga ada disana membantu, karena memang kami di kota lain, bekerja dan sekolah atas dorongan mereka.
Mereka
berdua juga rela kehujanan saat di atas motor menuju tempat fotokopi
dan memilih melindungi portfolio nya agar tidak kebasahan.
Ada
kata2 mereka saat itu yg terasa nyess dan membekas di hatiku "Bu, hal
seperti ini biar anak2 tau, kalau walau kita sudah tua tapi kita ga
pernah dan mudah menyerah"
Ayah dan Ibu adalah orang2 yang membuatku bangga.
Iya yah, bu.. Adis pasti ga mudah menyerah.
Mas Yogha dan Adis insyaAllah ga mudah menyerah.